Archive for the 'Buku Al Jupri' Category

Satu, Dua, dan Tiga

Oleh: Al Jupri

Satu-satu aku sayang ibu

Dua-dua aku sayang ayah

Tiga-tiga aku sayang…

Satu, dua, tiga, sayang semuanya

Ya, syair lagu ini sering saya dengar dinyanyikan oleh anak-anak di bawah umur 7 tahun. Bagi Anda yang pernah mengenyam pendidikan TK* saya percaya sudah hafal syair lagu ini dan tentunya mahir pula menyanyikannya.

Saya sendiri, jujur saja, tak bisa menyanyikan lagu tersebut. Maklum, selain tak pernah sekolah TK, saya pun termasuk orang yang tidak suka menyanyi, kurang suka mendengar musik, apalagi yang berisik. Entah sebabnya apa, saya pun tak begitu tertarik untuk mengetahuinya.

Lantas, pelajaran apa yang bisa kita ambil dari syair lagu tersebut? Continue reading ‘Satu, Dua, dan Tiga’

Pola Pikir Sains* dan Matematika (Part 2)

Oleh: Al Jupri

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel: Pola Pikir Sains* dan Matematika (Part 1).

Setelah sang professor membahas tentang pola pikir sains, ia pun melanjutkan pembahasannya.

“Setelah kita tahu pola pikir sains, selanjutnya akan kita bahas pola pikir matematika. Seperti apakah pola pikir matematika itu?” begitu pertanyaan retorik sang professor. Suasana yang semula agak ramai karena diskusi, sekarang mulai tenang lagi. Para mahasiswa mulai diam berkonsentrasi, siap menyimak penjelasan selanjutnya.

“Berbeda dengan sains, pola pikir yang digunakan dalam matematika itu adalah pola pikir deduktif. Yakni pola pikir yang didasarkan pada pernyataan yang umum kemudian diturunkan kasus-kasus yang khusus. Jadi pola pikir ini berkebalikan dengan pola pikir induktif. Untuk lebih mudahnya, mari kita lihat contoh proses berpikir deduktif itu,” begitu kata sang professor. Kemudian ia menuliskan sesuatu di papan tulis, seperti berikut ini. Continue reading ‘Pola Pikir Sains* dan Matematika (Part 2)’

Pola Pikir Sains* dan Matematika (Part 1)

Oleh: Al Jupri

“Pada pertemuan kali ini kita akan membahas tentang pola pikir yang dipakai dalam sains dan matematika,” ucap seorang professor filsafat di depan para mahasiswanya, sambil menekan tombol overhead projector (OHP) di sampingnya.

“Yang pertama akan kita bahas adalah pola pikir yang digunakan dalam sains,” sambil ia meletakkan slide di OHP yang sudah dihidupkannya tadi. “Agar lebih mudah mengerti pola pikir sains, mari kita lihat contoh-contoh yang sudah biasa kita kenal,” ajak sang professor pada para mahasiswanya untuk sama-sama melihat tulisan yang terhampar di layar. Continue reading ‘Pola Pikir Sains* dan Matematika (Part 1)’

Cara Mencari Kebenaran melalui “Dongeng”

Oleh: Al Jupri

“Salah satu cara untuk mencari kebenaran yaitu melalui dongeng,” begitu seorang professor memulai kuliahnya. Kemudian ia bertanya ke mahasiswa-mahasiswa yang hadir mengikuti perkuliahannya. Beberapa mahasiswa ia tunjuk untuk dimintai pendapatnya tentang dongeng.

Mahasiswa A berkata, “Dongeng adalah suatu cerita yang di dalamnya terkandung nasihat yang baik bagi anak-anak. Contohnya dongeng Si Kancil dan Buaya,” begitu ia berpendapat.

Mahasiswa B berkata, “Dongeng adalah cerita rakyat yang mengisahkan legenda suatu tempat. Misalnya legenda gunung Tangkuban Perahu,” begitu ia berpendapat dengan mantap.

Mahasiswa C berkata, “Dongeng itu sebenarnya cuma cerita buatan orang jaman dulu untuk membodohi anak-anak. Karena dongeng adalah akronim dari perkataan ngabobodo anak cengeng…” Continue reading ‘Cara Mencari Kebenaran melalui “Dongeng”’

Memperbaiki “Citra Buruk” Guru Matematika, Bagaimana?

Oleh: Al Jupri

Sudah sejak lama saya sering mendengar (mitos) bahwa kebanyakan guru matematika itu “tampang”nya menyeramkan, menakutkan, serius, galak, serta orangnya sulit diajak basa-basi, terlalu “to the point”, sulit diajak senyum, dan berbagai citra buruk lainnya. Karena citranya seperti itu ada juga yang berani menggambarkannya dengan sindiran. Sindirannya itu begini katanya, guru matematika itu mukanya seperti segi empat, mulutnya seperti segitiga, matanya seperti bola pingpong, kepalanya seperti bola sepak, dan telinganya seperti angka tiga. Bahkan ada juga yang lebih berani menyindir dengan kata-kata yang kasar. Semisal bahwa guru matematika itu adalah “biangnya horor” sepanjang jaman.

Tentunya citra-citra seperti tersebut tak sepenuhnya benar. Karena citra yang buruk seperti itu, siapapun Anda sebagai guru matematika tentunya perlu introspeksi diri, perlu memperbaiki diri, perlu mengubah citra tersebut menjadi citra yang baik. Namun, bagaimana caranya? Bagaimana ya caranya? Continue reading ‘Memperbaiki “Citra Buruk” Guru Matematika, Bagaimana?’

Menyajikan Matematika Secara Kreatif, Bagaimana?

Oleh: Al Jupri

Pernah ada pertanyaan yang ditujukan buat saya. Kurang lebihnya pertanyaan itu begini, “Bagaimana sih cara mengajarkan matematika yang menarik itu?”

Bagi saya pertanyaan tersebut tidaklah mudah untuk dijawab. Sebabnya, saya sendiri bukanlah orang yang sudah berpengalaman di dunia ajar-mengajar matematika. Mulanya saya berfikir bahwa pertanyaan tersebut cocoknya ditanyakan ke guru matematika yang sudah malang-melintang di dunia ajar-mengajar, yang sudah banyak makan asam-garam di bidangnya. Mulanya juga saya fikir pertanyaan tadi salah alamat bila ditanyakan ke saya.

Tapi bila difikir lebih jauh, tak ada salahnya juga bila saya menjawab pertanyaan tersebut. Perkara benar atau tidaknya itu urusan nanti. Perkara disetujui atau tidak, itu terserah bagi si penanya. Perkara menarik atau tidaknya itu perlu praktik, perlu dicobakan di kelas yang sesungguhnya. Kewajiban saya hanyalah menjawab pertanyaan tersebut. Toh ini kan masalah sosial yang sangat mungkin untuk diperdebatkan, siapapun bisa menjawab asalkan punya dasar dan argumen yang logis, siapapun bisa bicara sesuai kaidah keilmuannya dan sesuai kadar pengetahuannya. Betul? Kata Gus Dur sih, “Gitu aja repot, ya dijawab saja.” Continue reading ‘Menyajikan Matematika Secara Kreatif, Bagaimana?’

Cara Mengajar Matematika, Bagaimana?

Oleh: Al Jupri

Bagaimana sih cara mengajar matematika itu? Bila pertanyaan ini diajukan ke guru matematika, tentunya akan dapat jawaban berdasarkan pengalamannya. Bila pertanyaan ini diajukan pada guru, yang bukan guru matematika, kemungkinan besar masih dapat jawaban juga berdasarkan pengalamannya mengajar bidang lain (ia akan mereka-reka, menganalogikan cara mengajarnya pada cara mengajar matematika). Namun, bila pertanyaan ini diajukan ke sembarang orang yang bukan guru, apa jawabannya? Tentunya mereka juga bisa menjawab berdasarkan pengalamannya ketika menjadi siswa di sekolah. Pertanyaan ini hampir mustahil bisa dijawab oleh orang yang sama sekali tak pernah sekolah atau mengenyam pendidikan, mereka ini hampir dipastikan tak kenal dengan “mahluk” yang namanya matematika.

Baiklah, bila pertanyaan itu diajukan ke saya. Apa jawaban saya? Continue reading ‘Cara Mengajar Matematika, Bagaimana?’

Menjadi Guru Matematika Impian, Bagaimana?

Oleh: Al Jupri

Sebut saja namanya Pak Endar, beliau adalah guru matematika saya sewaktu SMA dulu. Beliau ini adalah guru yang sangat disegani, ditakuti, sekaligus disukai murid-muridnya. Terasa ganjil memang, ada guru yang ditakuti sekaligus disukai. Tapi, saya tidak mengada-ada. Faktanya, dalam pemilihan guru favorit versi siswapun beliau meraih suara terbanyak, keluar sebagai pemenang. Continue reading ‘Menjadi Guru Matematika Impian, Bagaimana?’